29.6 C
Pekalongan
Kamis, Mei 13, 2021

Peristiwa Agung di Bulan Ramadhan

Must read

SURYANEWS.ID – Kedatangan Ramadhan menjadi sebuah peristiwa yang ditunggu-tunggu oleh mayoritas muslim dunia. Mulai dari orang tua, hingga anak-anak, tak pandang usia. Tak pandang jenis kelamin, baik laki-laki dan perempuan. Tak pandang level sosial. Si miskin dan si kaya. Semua menyambutnya dengan suka cita. Berbagai kegiatan Tarhib Ramadhan dan kajian-kajian Ramadhan diadakan, entah di perkantoran ataupun sekolahan, apalagi di pesantren. Bakti sosial untuk anak yatim dan kaum dhuafa digalakkan. Memberikan makanan berbuka pun menjadi semarak di bulan ini. Tadarus dan tilawah al quran baik di mushalla ataupun masjid pun digelar hingga khatam. Semua menjadi ekspresi bagaimana Bulan Ramadhan menempati di hati ummat Islam.

Flash back jauh ke belakang, ternyata dalam Sejarah Islam pada masa Nabi dan masa Sahabat, banyak peristiwa hebat bersejarah terjadi di bulan ini. Di antara peristiwa besar ini adalah:

  • Turunnya al-Quran di bulan ini menjadi sebuah tonggak awal mula agama Islam turun bermula dengan turunnya wahyu kepada baginda Nabi. Sejarah besar ini tak akan pernah terlupa. Karunia agung untuk manusia dengan turunnya al-Quran sebagai petunjuk hidup manusia. “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Pun pada bulan ini, Jibril sering datang kepada Nabi lalu menyimak al Quran. Sehingga salah satu ibadah besar di bulan ini adalah berinteraksi dengan al Quran: dengan cara membaca, menghafal, memurajaah, ataupun mentadabburi. Lebih dari itu semua, mengamalkan ajaran-ajarannya menjadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar.

  • Kemenangan kaum muhajirin dan anshar pada peperangan Badar yang terjadi pada tahun ke-2 H. Ini pun terjadi pada bulan Ramadhan, pada tanggal 17. Pada tiap bulan Ramadhan datang, kajadian besar ini kembali terkenang, bagaimana perjuangan Rasul dan para sahabat sehingga kemenangan gemilang dapat tercapai, tentu semua terjadi atas kehendak-Nya. Namun, lagi-lagi seperti kata Nabi, kemenangan ini adalah merupakan jihad kecil. Karena setelah ini, masih terus kaum muslimin berkewajiban melakukan jihad besar, yaitu “jihadunnafsi”.
  • Pensyariatan zakat fitrah terjadi pula di Bulan Ramadhan. Kewajiban ini bermula di tahun ke-2 H. Zakat fitrah disyariatkan kewajibannya sebagai penyuci orang yang berpuasa dan supaya menjadi makanan bagi si fakir. Keunikan zakat ini syaratnya sangat minimalis, sesiapa saja yang memiliki kecukupan makan untuk satu hari dan malam pada hari raya idul fitri, maka ia wajib mengeluarkan zakat ini.
  • Pembebasan kota Makkah sebuah peristimewa fenomenal pun terjadi di bulan ini, pada tahun ke-8 H. Peristiwa besar ini terabadikan dalam buku sejarah, lengkap dengan sebab dan detail kejadiannya. “Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS. Al Fath: 1). Al Qurthubi dalam kitab Al Jami’ fi ahkamil Qur’an berkata bahwa salah satu pendapat terkait yang dimaksud dengan kemenangan di ayat ini adalah Fathu Makkah atau pembebasan kota Makkah.
  • Berkumpulnya para Sahabat Nabi untuk melaksanakan sholat tarawih dengan satu imam. Mereka mendengarkan imam dan melaksanakan sholat di belakangnya, di bawah satu komando hingga hati-hati menjadi khusyu’ penuh dengan tadabbur, dzikir dan doa. Panjangnya malam tak menjadi terasa karena adanya qiyamullail yang panjang. Malam diisi dengan tarawih.

Mari kita ambil pelajaran dari kejadian-kejadian yang pernah ada. Dari kejadian perang Badar, maka muncul pertanyaan: bagaimana semangat bisa membakar para sahabat untuk berperang sementara mereka sedang berpuasa di tengah teriknya sengatan matahari, dan pada puasa yang pertama kalinya? Bagaimana dengan kita, yang berpuasa dengan rasa aman, dan seabrek makanan tersedia ketika buka, masih terus merasa malas bahkan mungkin terasa berat puasa kita?

Turunnya wahyu pada bulan Ramadhan, sepantasnya kita ambil teladan, bahwa porsi interaksi dengan al-Qur’an menjadi porsi yang seharusnya lebih di bulan ini dari hari-hari biasa. Karena Ramadhan adalah “syahrul Qur’an”.

Dari kejadian berkumpulnya para sahabat untuk terawih, maka sudah sepantasnya kita pun meneladani semangat terawih mereka, dan tidak lagi mempermasalahkan jumlah rakaatnya? Selagi kita berterawih dengan berjemaah maka ikuti gerakan imam hingga selesai tarawihnya, semoga menjadi bagian ibadah yang diterima.

Wallahu a’lamu bis shawab. (Latifa Muna Az-fa/thd/adm)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article